Pengetahuan diri paling baik dipelajari,
bukan dengan merenung atau
meditasi, melainkan dengan tindakan.
Berusaha keraslah untuk melakukan tugas Anda
dan Anda akan segera tahu orang seperti apa Anda.
bukan dengan merenung atau
meditasi, melainkan dengan tindakan.
Berusaha keraslah untuk melakukan tugas Anda
dan Anda akan segera tahu orang seperti apa Anda.
JOHANN GOETHE
Pada 2004, dalam suatu kegiatan SELARAS Outboud, Amirudin Fadlullah selaku Project Leader, sedang memfasilitasi materi Team Challenge dengan memandu peserta ke sebuah pulau kecil di tengah Waduk Jatiluhur. Di pulau itu, seluruh peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Ketiga kelompok harus menyelesaikan sebuah rakit dari bambu, tali dan drum untuk bisa kembali ke daratan. Itulah tantangannya!
Karena seluruh kelompok sudah membagi tugas sebelum ke pulau, maka semuanya pun bekerja dengan sigap. Tentu saja sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Belum cukup sejam, ketiga kelompok itu sudah berhasil menyelesaikan rakitnya. Dengan penuh semangat mereka naik ke atas rakitnya masing-masing. Mendayung dengan gesit, kuat, dan serempak. Memacu laju rakit sekencang yang mereka bisa. Di wajah seluruh peserta memancar aura gairah. Semangat menyelesaikan tugas dan tanggung jawab.
Belum lagi sepuluh meter dari pulau, petir pun menggelegar. Kilat menyambar. Hujan bak tumpah meruah ke atas waduk. Gelombang nyaris setinggi satu meter. Suasana menjadi kacau. Sangat mengerikan. Rakit yang terikat kokoh, dikalahkan oleh kekuatan alam. Hancur. Berantakan. Badai dahsyat menghantam. Angin ribut. Tak ada yang mengira bakal terjadi badai sedahsyat itu. Para peserta terlempar kesana-kemari.
Bayangkan! Apa yang akan Anda lakukan, sekiranya Anda adalah project leader, dalam bencana seperti itu? Was-was, bingung, takut, cemas. Dalam bencana yang merajalela, Mas Roy, begitu bung Amirudin Fadlullah, sering disapa berusaha tetap tenang. Ia pasrahkan semuanya kepada Allah. Ia berusaha agar tetap fokus dan tidak kehilangan daya nalar. Ia berdoa, lirih, sepenuh hati. Alhasil, ia berhasil meminjam speedboat untuk mencari dan menolong seluruh peserta yang berserakan di atas danau.
Mas Roy, ketika saya ajak mengenang kejadian itu, ada beberapa kejap matanya mengerjap. Berkaca-kaca, "Kami sudah merencanakan dengan matang kegiatan itu. Termasuk cuaca. Bahkan, menurut penduduk sekitar waduk, badai seperti itu jarang terjadi. Semua peralatan pun layak digunakan. Aman. Proses kegiatan pun berjalan sesuai rencana. Tapi, kita ini hanya manusia. Kita hanya bisa berencana. Tak ada kekuatan yang bisa menentukan kecuali Allah. Saat itu, saya pasrahkan semuanya kepada Allah. Ya. Semata kepada Allah. Tanpa pertolongannya, entah apa yang akan terjadi saat itu."
Kita memang hanya manusia biasa dengan daya tenaga yang serba terbatas. Kita bukan makhluk super yang bisa mewujudkan semua keinginannya. Kita bukan superhero seperti tokoh-tokoh dalam film, hasil rekayasa imaji. Kita bukanlah Batman, Superman, ataupun Spiderman. Kita juga bukan Aladin yang punya lampu ajaib dengan jin saktinya. Juga bukan Abu Nawas dengan akal supernya. Kita hidup di dunia nyata. Dunia sebenarnya. Dunia yang berada dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Maka, manakala kita telah bekerja keras, merasa telah memenuhi seluruh prosedur tetapnya, mengerahkan segala daya dan tenaga, terminal akhir yang harus kita singgahi adalah tawakkal. Pasrah. Menyerahkan seluruh hasil akhir kepada kebijakan Allah.
Jika tidak demikian, kita bisa stres. Depresi. Kecewa berat. Terutama ketika kita gagal total. Apalagi jika kita terlalu menggantungkan diri kepada sesama manusia. Seseorang banyak kehilangan rasa bahagia karena terlalu banyak berharap pada orang lain, terlalu bergantung pada kedermawanan orang lain. Padahal, tidak ada yang stabil di dunia ini. Angin bisa datang dan melanda dari arah mana saja. Bisa dari depan, belakang, samping, bahkan dari atas atau dari arah bawah.
Badai yang menerjang peserta SELARAS Outbond beberapa tahun yang lalu itu bisa saja merusak reputasi dan prestise kami. Andai saja kami ini hanya bersandar pada ketenaran duaniawi saja, boleh jadi nasib akan berkata lain. Tapi, karena semua kami sandarkan pada Ilahi, maka apapun hasilnya hanya Allah yang jadi penentu.
Mungkin Anda pernah mendengar, atau mengatakan hal-hal seperti ini:
”Saya telah berusaha sekuat tenaga, kenapa saya masih gagal juga?”
”Ada sabotase orang lain. Kalau tidak, hasilnya pasti lain, deh!”
”Brengsek! Ini konspirasi.”
”Tuhan tidak adil.”
”Saya telah berusaha sekuat tenaga, kenapa saya masih gagal juga?”
”Ada sabotase orang lain. Kalau tidak, hasilnya pasti lain, deh!”
”Brengsek! Ini konspirasi.”
”Tuhan tidak adil.”
Atau, menepuk dada dan membanggakan diri:
“Oh, ini teh spesialisasi saya. Gampang deh. Pasti bereslah!”
”Jangan takut, serahkan semuanya pada saya. Dijamin selesai tepat pada waktunya.”
“Oh, ini teh spesialisasi saya. Gampang deh. Pasti bereslah!”
”Jangan takut, serahkan semuanya pada saya. Dijamin selesai tepat pada waktunya.”
Bagaimana rasanya mengucapkan kata-kata di atas. Mungkin Anda berpikir itu bisa membangkitkan motivasi. Padahal, yang terjadi malah sebaliknya. Alih-alih melejitkan semangat Anda, malah dapat membuat orang lain kurang respek karena Anda terkesan terlalu pede. Ya, kalimat-kalimat seperti itu lebih mencerminkan ke-kurangmampuan atau membanggakan diri. Akibatnya, bisa saja orang malah menganggap Anda tidak layak untuk diajak kerja sama. Apalagi ketika ternyata hasilnya ternyata tidak seperti yang Anda janjikan. Atau, mungkin sesuai dengan standar Anda, tapi belum tepat seperti yang diinginkan oleh orang lain. Jadi, mengapa harus membanggakan diri? Untuk apa juga Anda takut dan tidak pede?
Kebanyakan kita tak suka membincangkan kelemahan kita. Terkadang kita lebih semangat ketika orang mengajak kita mengupas kelebihan yang kita miliki. Ya, begitulah yang sering terjadi. Memang, tidak semua orang memiliki sifat seperti itu. Sekali lagi, kebanyakan. Dan, semoga Anda dan saya tidak termasuk dalam golongan itu. Bukan karena merasa sempurna. Melainkan karena merasa punya banyak ’kekurangan’ sehingga selalu rela memacu diri menjadi lebih baik dari hari kemarin atau hari ini.
Apa yang Anda lakukan ketika melakukan kesalahan? Semoga Anda tidak langsung menyalahkan orang lain, apalagi menimpakan kesalahan kepada orang lain. Berlaku seolah-olah terjadi karena perbuatan kekuatan selain Anda. Padahal Anda sendirilah pelakunya. Atau, jangan sampai Anda hanya diam, pasrah, dan mencoba mencari pembenaran-pembenaran atas kesalahan atau kegagalan itu. Atau berlindung dibalik paradigma bahwa kesalahan dan kegagalan adalah buah dari kecelakaan. Seperti disitir Ahmad Zasirofi AM, Redaktur Tarbawi, ”Kesalahan telah berevolusi menjadi cita-cita. Kesalahan adalah puncak ikhtiar.”
Kembali pada kasus badai di waduk Jatiluhur, Roy pun cukup pede dan berkesimpulan bahwa segala prosedur telah dikerjakan sesuai dengan tahapannya, toh ada kekuatan Maha Dahsyat yang lebih menentukan. Pengalaman Roy adalah wujud seseorang yang takluk dan taat pada Zat Yang Tak Tertandingi. Hasilnya, bahkan dalam kondisi kritis pun masih tetap bisa berpikir jernih.
Semoga kita bisa memetik hikmah dari kejadian menarik, menegangkan dan penuh tantangan itu. Jangan sampai kita lupa diri!